Rujak Cinta

Belum penuh 24 jam aku dan dia berbaikan, masalah kembali datang. Aku benar-benar tak mampu menguasai perasaan hatiku. Aku mencoba menyibukkan diri dengan aktivitasku yang lain agar tak lagi memikirkannya. Bisa dibilang berhasil namun terkadang masalah itu tetap datang mengganggu pikiranku.
Aku kehabisan kata-kata untuk dapat menggambarkan kekacauan hatiku. Rasanya ingin berteriak sekencang-kencang nya dilautan luas. Sakit sekali rasanya jika harus menahan emosi ini. Tak lain ku pilih hanya diam.
Saat ini aku merasa benar-benar tak dipedulikan olehnya. Berkali-kali mata ini melirik ke Handphone, aku sangat berharap dia segera mengatakan sesuatu. Sekedar kabar, tak peduli jika itu malah akan menambah pilu ini. Yang jelas aku sangat ingin melihat namanya dilayar hp ku, meskipun hanya pesan text kosong. I will be satisfied enough. Tetapi, dia tak kunjung memberi kabar apapun padaku.
Mungkin memang benar jika akulah selama ini biang dari semua permasalahan diantara kami. Andai ia tahu, kalau selama ini aku tak pernah berhenti menyalahkan diriku yang terlampau sensitif, aku juga merasa sangat berdosa jika terus membuatnya gelisah dan cemas akan kemarahanku. Namun aku sendiri tak tau harus bagaimana, aku tak sanggup jika harus berpura-pura tak terjadi apa-apa. Bukan itu caraku untuk menyenangkan hatinya. Hal yang sepele bisa jadi sangat sangat kompleks jika sudah masuk ke hatiku termasuk apa yang terjadi sore ini.
“Sore ini aku ingin makan rujak lagi. “ kataku manja padanya. “tapi kalo minggu seperti ini yang jual rujak buah dikampus gag dagang. Gag tau nih mau dicari kemana, pingin kali.” Ujarku dengan nada sedih.
“Rujak lagi, rujak lagi. Dyah, kenapa sih mesti ngemil rujak? Gag mau ngemil yang lain aja. Tau susah hari begini nyarinya. Makan makanan yang lain aja ya?” jawabnya lembut.
Aku sendiri tak tahu kenapa ingin sekali makan rujak sore ini. Aku memang sangat menyukai rujak, terutama buah-buahan yang rasanya asam. Dia telah lama mengetahui itu, dan selama ini tanggapannya selalu baik padaku.
“Gag tau di, pingin kali rasanya. Aku keanya tau deh bakal cari dimana. Mudah-mudahan aja masih ada. Okey???” kataku riang.
“Heh, kamu nih! Persis kalilah kea mantanku dulu. Rujak terus camilannya” katanya pelan, terdengar seperti nada mengenang.
Ini moment yang dari dulu sangat-sangat aku benci, dimana Ketika aku dibayang-bayangi dengan mantan-mantannya yang dulu. Selalu saja mengusik. Aku muak dengan suasana ini. Hal yang paling ampuh membuat mood ku rusak.
“Di, aku mau istirahat dulu. Nanti aja disambung telfonannya. Aku juga tau kamu sibuk disana.” Ujarku berkata dengan nada sebiasa mungkin.
“Loh, kok tiba-tiba?” tanyanya tak mengerti.
“gag tau nih, tiba-tiba aja mata berat banget rasanya. Aku istirahat dulu.”
Klik. Sambungan telfon pun putus.
Aku langsung membanting tubuhku ke tempat tidur. Meski mata ini tak nyata basah oleh linangan air mata tapi aku sangat merasakan hatiku banjir. Mungkin terlalu sakit hingga aku tak lagi mampu menangis. Ini bukan yang pertama kali. Rasanya benar-benar seperti disayat pisau tajam diluka yang sama berulang-ulang.
Aku memang benar-benar tertidur selama beberapa menit. Meski tak sepenuhnya membaik tapi cukup bagiku untuk meredakan emosi. Aku lekas membeli rujak yang sangat aku inginkan itu. Tak terucap gembira ketika aku temukan satu-satunya penjual buah didepan gerbang kampusku. Dalam perjalanan aku terus berkhayal, menelfonnya kembali dan memamerkan padanya akan kelezatan makanan yang bernama ’Rujak’. Hatiku terus tersenyum, kali ini aku gak boleh sedih lagi. Dia akan menemaniku makan rujak.
“Sayang, aku udah beli rujaknya. Ikutan makan yuuk??” kataku ditelfon. Bohong kalau ia tidak merasakan kegembiraan yang terdengar dari suaraku.
“Oh iya, syukurlah. Makanlah dulu.” Jawabnya sekenanya. Aku tahu apa yang terjadi, hanya bisa berharap agar ia tak mengakhiri telfonku.
“Dian, matikan lah dulu telfonnya. Lagi sibuk nih. Makanlah rujaknya ya. Nanti aku kabari kamu lagi”
Aku tak lagi mendengar apa-apa setelah ia menyelesaikan kalimatnya. Ia benar-benar mematikan telfonnya. Hal yang saat ini sama sekali tidak aku inginkan ternyata terjadi. Kecewa ini benar-benar merasuk ke ubun-ubunku. Aku terdiam memandangi sepiring penuh rujak yang baru saja kuaduk. Aku tak mengerti tiba-tiba saja aku merasakan benci yang luar biasa pada makanan itu. Seleraku tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
“AKU BENCI RUJAK!” teriak ku dalam hati.
Aku berjanji untuk tidak memakan makanan itu lagi selama-lamanya. Aku benci disama-samakan dengan siapapun. Aku tak ingin jadi bayang-bayang siapapun. Aku ingin ia benar-benar melihat aku sebagai ‘dian’, kekasihnya, dan itu takkan bisa aku dapatkan jika aku masih menyukai rujak. Ia akan terus mengingat kekasihnya yang terdahulu itu. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan perhatian dari dia sepenuhnya. Membenci sesuatu yang sangat aku sukai akan menjadi hal mudah bagiku. Setengah dari porsi rujak yang belum habis ku santap itu ku buang. Aku membuangnya benar-benar dengan nada penuh kebencian.
“AKU GAG AKAN PERNAH MAKAN RUJAK LAGI!!!” lagi-lagi aku berteriak dalam hati. Hanya bisa berteriak dalam hati.
Aku kembali ke kamar, membereskan semuanya. Aku sangat ingin kembali mendengarkan suaranya. Kapan dia kembali menelponku? Kapan aku bisa bebas meneleponnya? Berapa banyak waktu yang sebenarnya ia luangkan untuk ku? Benarkah ia tulus menyayangiku? Mengapa terkadang aku sulit untuk percaya padanya? Dia sedang berada dikota yang berbeda, terkadang jarak juga dapat menjadi pemicu masalah dalam hubungan.
Dia baru saja kehilangan mantan kekasihnya. Konon ceritanya, mereka putus lantaran orang tua Radi tak menyetujui hubungan mereka. Radi terpaksa memilih orang tuanya, dan cinta itu pun kandas. Tiga bulan yang lalu sang mantan kembali kepada sang pencipta saat dalam perjalanan liburan ke Sidoarjo, mobil yang membawa gadis itu mengalami kecelakaan. Saat itu usia hubungan kami baru berjalan 4 bulan, tepat sebulan kami pacaran ia dipanggil oleh yang Maha Kuasa.
Aku bisa mengerti kesedihan yang ia rasakan. Tak masalah jika ia meminta waktu untuk menenangkan diri menghapus kepiluan yang melanda hatinya. Tapi sampai kapan? Aku juga sangat membutuhkan perhatian dan kehadirannya. Aku perlahan-lahan tau ternyata banyak kemiripan antara aku dan almarhumah. Ya Tuhan, adakah aku hanya pelariannya? Benarkah ia memang membayangkan Berbicara dengan aku atau kah bayangan gadis itu yang muncul dibenaknya? Sudah terlalu banyak tanya yang mungkin aku harus lebih bersabar agar bisa menemukan jawabannya.
                                                                                ***
“tumben gak beli rujak hari ini? Biasa kan kamu makan rujak sore begini.” Tanya Radi padaku ditelfon minggu sore itu.
Aku coba menenangkan hatiku. Rujak lagi rujak lagi. Aku sudah benar-benar bisa membenci makanan itu.
“Gak di” jawabku sekenanya. Ntah kenapa mood ku tidak baik sore itu. Terlebih lagi aku sadar dia seolah-olah tak pernah peduli dengan perasaanku.
“aku mau kita ketemu sore ini dian. Bisa kan?”
“di mana?” tanyaku datar
“di pantai. Aku tunggu kamu ya?” aku mendengar suaranya melembut.
“Iya” . aku Menyetujui permintaannya. Ntah mungkin ini akan jadi moment kami yang terakhir. Aku sudah siap dan ikhlas. Kalau memang ternyata ia tak mampu mecintaiku sepenuhnya , biarlah kami berpisah.
                                                                              ***
  Raditiba lebih cepat dariku. Aku mendapatinya duduk dibatu-batu di pinggiran pantai. Sore itu memang sangat indah, langit bercorak biru sangat menawan. Angin berhembus menjadi penyejuk kalbu yang gundah. Aku duduk disampingnya. Aku sengaja tidak memandangnya, mencoba menahan air mata dengan terus memandangi birunya air pantai. Aku sering merasa lebih baik jika memandangai laut atau pantai. Pantai atau laut adalah tempat kesukaanku.
“Kamu sehat-sehat ajakan semenjak aku diluar kota?” Radi  memulai percakapan. Ia merubah posisi duduknya. Ia duduk menyamping menghadapku.
“Iya, aku sehat di” jawabku tanpa memandangnya.
Sejenak kami sama-sama terdiam. Aku mendengar Ia menarik lalu membuang nafasnya dalam-dalam.
“Dian, kamu mau kan mendengar penjelasanku kali ini?” Ia memohon.
“bicaralah di” sahutku lemah. Ia membetulkan posisi duduknya. Kini kami sama-sama memandang birunya air pantai.
“awalnya aku kagum padamu dian.” Ia berhenti sejenak. Sepertinya mengatur napas. “kemudian setelah kita berkomunikasi, aku mulai kenal siapa dan bagaimana kamu. Trus, aku suka. Lalu, perhatianmu membuat aku sayang sama kamu. Setelah itu, aku tau kamu gadis yang tulus dan berhati baik. Aku jatuh cinta sama kamu, yan. Aku telah memilih kamu untuk selamanya.” Air matanya jatuh. Badanku gemetar mendengar kalimat-kalimatnya. Air mataku nyaris tumpah.
“aku tak pernah bermaksud untuk mengabaikan kamu, sayang. Aku hanya sedang berusaha untuk membersihkan kembali hatiku. Aku ingin cintaku padamu benar-benar putih, semurni dan setulus yang kamu berikan. Aku tak pernah berniat main-main sama kamu, apalagi sampai menyakitimu. Dosa besar bagiku jika sampai itu terjadi. Aku cinta kamu yan, forever. Kamulah yang selama ini aku cari dan terimakasih sayang, kamu sudah menerima aku apa adanya.” Diakhir kalimatnya, Ia memandangku lekat. Ia tak memperdulikan air matanya yang bercucuran. Aku masih diam.
“katakanlah sesuatu, dian. Dekatkanlah hati kita, yakinkan kembali hatimu, sama-sama kita jalani hubungan ini, sayang.” Ia berkata dengan nada yang lemah tapi terdengar meyakinkan.
Aku memandangnya. Ntah keberanian dari mana, tanganku bergerak menghapus air matanya. Mata kami bertemu. Air mataku tumpah tak tertahankan. Ini lah saat yang kunanti-nanti. Aku tahu jalan ini masih panjang, dan aku belajar bagaimana cara Tuhan menyatukan hati hamba-hambaNya.
“AKU CINTA KAMU JUGA RADI.” Aku mengucapkannya dengan terbata-bata karena terisak oleh tangisku. “You are the winner of my heart and It will never be replaced” . aku berbicara dengan sedikit berbisik.
Sesaat kami larut dalam tangisan. Beberapa menit kemudian, semuanyapun membaik. Tak ada lagi air mata. Tak ada lagi kesedihan. Hilang sudah keraguan. Aku tau sebuah babak cinta telah dimulai, dan aku yakin aku dan dia akan Bahagia. This is the true love.
“makasi sayang. I do love you, dian. Tapi aku mau satu hal.” Katanya sambil tersenyum lebar.
“apa?” tanyaku.
“tidak ada diantara kita yang menjadi orang lain. Jadilah diri sendiri.” Jawabnya misterius. Ia membuang pandangannya kedepan.
Aku mengernyitkan dahi, tak mengerti. “siapa?” tanyaku bingung.
Lalu Ia membuka tasnya. Mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Sesuatu itu dibungkus dengan plastik hitam. Ia membuka bungkusan itu. Aku mengerti.
“hmmmm,, apa-apaan nih?” ujarku setengah kesal. Aku memalingkan wajahku dari hadapannya dan sesuatu yang ada ditangannya itu.
Ia mendekatkan tubuhnya padaku. Ia berkata tepat ditelingaku. “jadi diri sendiri, sayang. Percayalah, tak akan ada bayangan yang lain, semuanya hanya kamu, aku dan cinta kita. Nih….” Ia menyuapkan sesuatu ke mulutku. Aku masih tak bergeming.
“dian, ayolah” ia terus membujukku.
Aku membalikkan pandanganku kepadanya. Melihat sekilas apa yang ditangannya. Lalu…
“ammmmmmm. Gitu donk. Itu baru sayang radi.” Ujarnya sambil tertawa kecil. “jadi, gelarnya tetap ya?” godanya.
“apaan?” tanyaku manja, dengan kunyahan yang ada dimulutku.
“DIAN, SI MANIAK R U J A K!” katanya seraya menyentuh hidungku dengan lembut. “Eh, rujak itu ada dua macam loh, ada rujak biasa satu lagi rujak cinta.” Sambungnya dengan gayanya yang sok serius.
“trus kalo yang ini rujak apaan namanya?”
“oh, kalo yang ini namanya Rujak Cinta Spesial. Limited edision, neh.” Ujarnya dengan style bak pujangga.
Gelak tawa memecah kesunyian pantai. Air beriak seolah ikut terbahak. Matahari bergerak pelan keufuk barat. Tiba waktunya bulan bertugas menerangi hari. Malam pun tiba. Aku dan Abdi beranjak pulang. Sore hari itu, pantai itu, dan semua yang ada disana akan menjadi hari bersejarah sekaligus saksi bisu ikrar cinta yang kami ucapkan. Aku benar-benar Bahagia, hingga tak tau bagaimana melukiskannya dengan kata-kata. Inilah rasa, Inilah cinta, dan Inilah anugrah terindahMu, Tuhan.
“we are the true love. ‘DiNRa’ forever!” Radi dan aku mengucapkannya bersamaan. Ia mencium keningku penuh  cinta.

Write Your Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s