Kebudayaan sebagai Cerminan Modernisasi Masyarakat Indonesia

Ilmu hanya dapat maju apabila masyarakat berkembang dan berperadaban. Artinya, ketika masyarakat masih terus bertahan dengan hal-hal konvensional dan tidak mau menerima ide-ide perubahan, maka ilmu tidak akan mengalami kemajuan pada golongan masyarakat tersebut. Agar terhindar dari kesesatan, manusia membutuhkan pengarah dalam hidupnya. Manusia tidak dianugrahi kemampuan bertindak secara otomatis berdasarkan instink, oleh sebab itu manusia berpaling kepada kebudayaan yang mengajarkan cara hidup. Pada hakikatnya, kebudayaan merupakan alat penyelamat kemanusiaan dimuka bumi. Salah satu tolak ukur kemajuan hidup masyarakat adalah modernisasi. Masyarakat yang telah mengalami proses modernisasi dianggap masyarakat berilmu dan berkelas. Hal ini sepertinya bisa dianggap sebagai suatu kebenaran karena salah satu wujud dari nilai-nilai kebudayaan adalah kegiatan manusia. Pada dasarnya tata hidup merupakan pencerminan yang konkret dari nilai budaya yang bersifat abstrak. Dalam proses modernisasi masyarakat di Indonesia, ada beberapa nilai yang harus mengalami proses peralihan.

Indikator pertama dalam proses modernisasi memberikan tempat penting kepada nilai teori dan nilai ekonomi. Didalam teori berkaitan dengan aspek penalaran, ilmu dan teknologi. Semua aspek kehidupan masyarakat yang tadinya berdalandaskan pengalaman, perasaan, intuisi, kini ditata secara rasional berdasarkan analisis. Pengambilan keputusan didukung penalaran yang kuat. Dalam masyarakat tradisional, nilai ekonomi seperti pola konsumsi konsumtif beralih menjadi pola konsumsi produktif.

Perubahan nilai juga terjadi pada nilai sosial. Secara bertahap masyarakat tradisional yang berorientasi kepada status akan beralih menjadi masyarakat modern yang berorientasi kepada prestasi. Hubungan antarmanusia akan lebih bersifat individual dimana survival seseorang ditentukan oleh kemampuannya untuk bersaing secara produktif dalam masyarakat yang menekankan pada prestasi karena secara perlahan-lahan masyarakat tradisional yang berorientasi kepada status beralih menjadi masyarakat modern yang berorientasi kepada prestasi.

Dalam masyarakat ada namanya nilai kuasa. Pengambilan keputusan yang selama ini sering diambil oleh orang lain beralih kemampuan diri sendiri untuk mengambil keputusan. Masyarakat modern bersedia menerima perubahan sebagai alat untuk orientasinya pada kemajuan, tidak lagi berorientasi pada stabilitas dan menolak perubahan. Nilai terakhir yang juga berperan penting adalah nilai agama. Masyarakat yang masih primitif cenderung untuk bersifat fatalisme secara bertahap mulai aktif memperbaiki nasibnya.

Dari keterangan-keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa proses modernisasi bukanlah suatu proses yang mudah dan cepat. Proses modernisasi membutuhkan tahapan-tahapan perubahan dalam sistem kehidupan masyarakat selama ini. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan nilai-nilai kehidupan yaitu nilai teori, nilai sosial, nilai ekonomi, nilai kuasa dan nilai agama.

Write Your Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s