Definisi Kebudayaan

Pada semester lalu telah di bahas mengenai metode penelitian secara umum. Pada semester ini yang menjadi pembahasan adalah bagaimana metode yang digunakan untuk melakukan penelitian bidang kebudayaan. Untuk melakukan sebuah penelitian sangat diperlukan pemahaman yang baik mengenai bidang yang akan diteliti. Untuk itu sebagai langkah awal pembahasan ini adalah mengenal dan memahami apa itu yang disebut “kebudayaan”.

Negara Indonesia disebut-sebut sebagai Negara yang kaya akan budaya. Indonesia adalah tanah air yang sangat luas yang terbungkus oleh beraneka ragam kebudayaan. Sulit untuk memastikan kebenaran jumlah kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia. Namun satu hal yang pasti bahwa masyarakat Indonesia bangga akan ciri khas bangsanya yang multikulturalis.

Untuk memahami betul akan pengertian kebudayaan diperlukan kajian dan analisis dari berbagai disiplin ilmu. Budaya atau kebudayaan adalah suatu hal yang sangat luas cakupannya. Ia ada hampir di setiap kajian disiplin ilmu. Secara umum dan sederhana dapat dikatakan bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang baik yang digunakan sebagai pedoman hidup manusia secara turun temurun. Kebudayaan adalah “warisan” yang sudah pasti didapatkan setiap orang, mau tidak mau sengaja dan tanpa disengaja.

Sebuah ungkapan indah namun tegas penuh makna diungkapkan oleh William James dalam Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. James (Abdullah:1) mengatakan bahwa kebudayaan yang sesungguhnya itu dilestarikan oleh hal-hal baik seperti sikap simpati dan kebanggaan, ketika kebudayaan itu dibungkus dengan hal-hal yang menyesatkan, maka ia pun akan menggiring kehidupan manusia juga pada hal yang salah. Ungkapan James semakin menegaskan bahwa kebudayaan adalah segala hal baik yang dapat menuntun manusia untuk mendapatkan kehidupan yang baik. Pada hakikatnya tidak ada kebudayaan yang salah atau jelek, penilaian itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab manusia selaku pemilik kebudayaan tersebut. Jika dianalogikan dengan obat-obatan, sesungguhnya tidak ada obat yang berbahaya bagi manusia selagi ia digunakan dalam takaran dan tujuan yang tepat. Sama halnya dengan kebudayaan, manusia selaku “konsumen” seharusnya juga menggunakan segala aturan yang terdapat dalam kebudayaannya secara bijaksana supaya tidak ada hal-hal yang dicap buruk khususnya pada penilaian kebudayaan itu sendiri.

Kebudayaan adalah pedoman manusia dalam bertingkah lalu. Dengan begitu dapat diambil pemahaman lebih dalam bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang mendarah daging dalam diri manusia dan menjadi symbol paling ekspresif bagi baik bagi individu maupun kelompok manusia.

Ilmu sejarah tampaknya sangat erat kaitannya dengan kebudayaan mengingat salah satu sifat budaya yang historis dan diwariskan. Pandangan ini didukung oleh Clifford Geertz yang mencoba memberikan pengertian kebudayaan, “merupakan pola dari pengertian-pengertian atau makna-makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol dan ditransmisikan secara historis” (Abdullah:1). Sifat kebudayaan yang dinamis menjadi kesulitan tersendiri bagi para sejarawan untuk dapat mengupas tuntas aspek historis dari kebudayaan. Lebih jauh lagi Geertz juga mencoba memberikan pandangan fungsi kebudayaan bagi manusia. Ia mengatakan kebudayaan itu “merupakan sistem mengenai konsepsi-konsepsi yang diwariskan dalam bentuk simbolik , yang dengan cara ini manusia dapat berkomunikasi, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan dan sikapnya terhadap kehidupan”.

Kajian mengenai kebudayaan seolah-olah tiada habisnya. Setiap orang pasti memiliki definisi sendiri mengenai apa itu kebudayaan, dimulai dari pengertian yang sangat sederhana. Masyarakat awam sehari-hari menjelaskan pengertian kebudayaan dengan sesuatu yang indah, contohnya seni, sastra,, dan perfilman. Jika dibandingkan dengan pengertian lain dari disiplin ilmu yang berbeda, pengertian seperti sangatlah dangkal dan abstrak. Salah satu cabang ilmu yang mempelajari kebudayaan adalah ilmu antropologi. Antropologi adalah ilmu yang meneliti dan menganalisa cara hidup dan system tindakan manusia. Singkatnya, antropologi adalah ilmu yang mempelajari perkembangan kehidupan manusia mulai dari zaman purba hingga saat ini.

Antropologi memiliki konsep tersendiri dalam memahami kebudayaan. Menurut antropologi, “kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar” (Koentjaraningrat 2005:72).

Dari pengertian yang dipaparkan oleh Koentjaraningrat, dapat diketahui berarti hampir semua tindakan manusia selama ia hidup adalah kebudayaaan. Namun hal yang perlu diingat adalah tindakan yang disengaja dan dapat dipelajarilah yang disebut kebudayaan menurut ilmu antropologi karena “jumlah tindakan yang dilakukannya dalam kehidupan bermasyarakat yang tidak dibiasakannya dengan belajar (yaitu tindakan naluri, reflex, atau tindakan-tindakan yang dilakukan akibat suatu proses fisiologi, maupun berbagai tindakan membabibuta), sangat terbatas.” (Koentjraningrat 2005:72-73). Manusia saat ini telah banyak merubah dan memanipulasi tindakan-tindakan naluriah mereka sehingga dapat dikategorikan sebagai kebudayaan.

Selain antropologi, suatu pendekatan baru dalam etnografi yang dikenal dengan nama etnosains juga mencoba memberikan definisi kebudayaan. Menurut kajian etnosains, “aspek penting dalam mengkaji kebudayaan adalah bagaimana suatu bangsa membangun prinsip-prinsip umum dari suatu system klasifikasi mereka..” (Poerwanto 2000:33). Goodenough dalam Poerwanto (2000:34) mengatakan bahwa “kebudayaan suatu masyarakat terdiri dari dan mengenai sesuatu keteraturan yang ingin diketahui atau dipercayai, kemudian dioperasionalkan dalam adat-istiadat atau tata cara (manner) yang diterima oleh warganya..”  Dengan demikian kebudayaan tak ubahnya seperti konstitusi informal yang diciptakan manusia untuk mengendalikan sistem hidupnya.

Istilah “Kebudayaan” Dan “Culture”. Kata “kebudayaan” berasal dari kata Sanskerta buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “kekal” (Koentjraningrat 2005:73).  Terkait dengan penggunaan non teknis sehari-hari seperti “budaya latah”, “budaya antri”, dan “budaya merokok”.  Penggunaan seperti ini jelas mengacu pada pengertian tingkah laku dan kebiasaan manusia yang menjadi tata cara hidup baginya (Ed.Masinambow 1997:6). Jadi, kebudayaan seolah-olah dapat dijadikan peta hidup manusia. Hal ini diperjelas oleh potongan definisi kebudayaan oleh Kluckhson dan Kelly (1945:7) bahwa “budaya merupakan ‘rancangan hidup’.”

Dari beberapa kutipan definisi kebudayaan di atas, secara garis besar dapat dirangkum bahwa tugas utama kebudayaan adalah mengatur, menuntun, dan mengarahkan hidup manusia menjadi lebih baik. Kebudayaan erat hubungannya dengan proses belajar sebagai salah satu proses (cara) untuk menerapkan mempertahankan dan melestarikannya. Bagi seorang ahli antropologi istilah “kebudayaan” secara umum mencakup cara berpikir dan tingkah laku yang menjadi ciri khas suatu bangsa atau masyarakat tertentu. Unsur-unsur kebudayaan seperti bahasa, ilmu pengetahuan, hokum, agama, makanan kesukaan, musik, kebiasaan pekerjaan, dan sebagainya (ed.Ihromi ______:7).

Setelah penjabaran semua hal di atas, keseluruhan dapat dibuat sebuah pengertian baru tentang kebudayaan. Kebudayaan merupakan himpunan pengalaman yang dipelajari secara sengaja dan terus menerus sehingga menjadi kebiasaan dan tolak ukur kebenaran tingkah laku dan pola pikir manusia yang bersifat turun temurun. Kebudayaan adalah hal yang kompleks karena mengandung banyak unsur, ada juga wujud, dan memiliki kerangka teori. Contohnya, bila kita menyebutkan kebudayaan orang Indonesia maka saat itu juga kita telah menyebutkan banyak hal sekaligus, beberapa hal diantaranya adalah makanan-makanan khas Indonesia, kesenian tradisional Indonesia, cara makan orang Indonesia, adat setiap daerah, dan masih banyak lagi yang termasuk unsur-unsur kebudayaan.

Daftar Pustaka:

Daftar Pustaka:

Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Banjarsari:   Pustaka Pelajar.

Ihromi, T.O. __________. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. ­­___________: Yayasan Obor Indonesia.

Keesing, Roger M dan Samuel Gunawan (alih bahasa). 1989. Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer. Jakarta: Erlangga.

Koentjaraningrat. 2005. Pengantar Antropologi I. Jakarta: Rineka Cipta.

Koentjaraningrat. 2009.Pengantar Ilmu Antropolgi. Jakarta: Rineka Cipta.

Masinambow, E.K.M (ed). 1997. Koentjaraningrat dan Antropologi di Indonesia. Jakarta: Asosiasi Antropologi Indonesia.

Poerwanto, Hari. 2005. Kebudayaan dan Lingkungan: Dalam Perspektif Antropologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Write Your Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s